• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

pembudidayaan tanaman pepaya


BUDIDAYA PEPAYA

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman dapat tumbuh pada dataran rendah dan tinggi 700 - 1000 mdpl, curah hujan 1000 - 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 - 26 derajat C dan kelembaban udara sekitar 40% dan angin yang tidak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus dan harus banyak menahan air, pH tanah yang ideal adalah netral dengan pH 6 -7.

PEMBIBITAN
1. Persyaratan Bibit/Benih
- Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.
- Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.

2. Penyiapan Benih
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan dan ditebari Natural GLIO kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.

3. Teknik Penyemaian Benih
- Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.
- Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.

4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5 - 10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki

5. Pemindahan Bibit
Bibit-bibit yang sudah dewasa, sekitar umur 2 - 3 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
1. Persiapan
Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.

2. Pembentukan Bedengan
- Bentuk bedengan berukuran lebar 200 - 250 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm.
- Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.

3. Pengapuran
Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5), setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg Dolomit dan biarkan 1-2 minggu.

4. Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang telah matang atau dengan SUPERNASA.

TEKNIK PENANAMAN
1. Pembuatan Lubang Tanam
- Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. - - Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri dengan pupuk kandang 2 - 3 blek. Jika pupuk kandang tidak tersedia dapat dipakai SUPERNASA dengan cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang - lubang yang ditutupi gundukan tanah yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.
- Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang - lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.

2. Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.

PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.

2. Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

3. Pembubunan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

4. Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah.
Cara pemberian pupuk:
- Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.
- Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl
- Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl
- Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl
- Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dengan dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali
- Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan
- Setelah umur 3 bulan semprot dengan POC NASA 3 - 4 tutup ditambah HORMONIK dosis 1 - 2 tutup / tangki.
- Penyemprotan hati - hati pada saat berbunga agar tidak kena bunga yang mekar atau lebih aman bisa disiramkan.

5. Pengairan dan Penyiraman
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

HAMA DAN PENYAKIT
Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Badan halus panjang 2 - 3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut.
Pengendalian : semprot dengan Natural BVR atau PESTONA secara bergantian
Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda.
Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.
Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam

PANEN DAN PASCA PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.

2. Cara Panen
Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dengan menggunakan "songgo" (berupa bambu yang pada ujungnya berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak jatuh pada saat dipetik).

3. Periode Panen
Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.

| |
Read More

pembudidayaan jeruk

Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Itali.
2.JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman jeruk adalah sebagai berikut:
Divisi: Spermatophyta
Sub Divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledonae
Ordo: Rutales
Keluarga: Rutaceae
Genus: Citrus
Species: Citrus sp.
Jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.), jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas Siem Pontianak, Siem Garut, Siem Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L. dan C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madiumdan Bali. Jeruk untuk bumbu masakan yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk Purut (C. hystrix) dan jeruk sambal (C. hystix ABC).

Jeruk varietas introduksi yang banyak ditanam adalah varitas Lemon dan Grapefruit. Sedangkan varitas lokal adalah jeruk siem, jeruk baby, keprok medan, bali, nipis dan purut.
3.MANFAAT TANAMAN

1)Manfaat tanaman jeruk sebagai makanan buah segar atau makanan olahan, dimana kandungan vitamin C yang tinggi.
2)Di Beberapa negara telah diproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol dan pektin dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit jeruk dipakai untuk membuat minyak wangi, sabun wangi, esens minuman dan untuk campuran kue.
3)Beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda nyeri saluran napas bagian atas dan penyembuh radang mata.
@tipspetani
4.SENTRA PENANAMAN

Sentra jeruk di Indonesia tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi.
5.SYARAT TUMBUH

5.1.Iklim
1.
Kecepatan angin yang lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus dengan arah angin.
2.Tergantung pada spesiesnya, jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus.
3.Temperatur optimal antara 25-30 derajat C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat C. Jeruk Keprok memerlukan temperatur 20 derajat C.
4.Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.
5.Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%.
5.2.Media Tanam
1.
Tanah yang baik adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7- 27%, debu 25-50% dan pasir <>
2.Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk.
3.Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk budidaya jeruk adalah 5,5– 6,5 dengan pH optimum 6.
4.Air tanah yang optimal berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
5.Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 30°.
5.3.Ketinggian Tempat
Tinggi tempat dimana jeruk dapat dibudidayakan bervariasi dari dataran rendah
sampai tinggi tergantung pada spesies:
1.
Jenis Keprok Madura, Keprok Tejakula: 1–900 m dpl.
2.Jenis Keprok Batu 55, Keprok Garut: 700-1.200 m dpl.
3.Jenis Manis Punten, Waturejo, WNO, VLO: 300–800 m dpl.
4.Jenis Siem: 1–700 m dpl.
5.Jenis Besar Nambangan-Madiun, Bali, Gulung: 1–700 m dpl.
6.Jenis Jepun Kasturi, Kumkuat: 1-1.000 m dpl.
7.Jenis Purut: 1–400 m dpl.
6.PEDOMAN BUDIDAYA

6.1.Pembibitan
  1. Persyaratan Benih
    Bibit jeruk yang biasa ditanam berasal dari perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah yang bebas penyakit, mirip dengan induknya (true to type), subur, berdiameter batang 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyak, akar tunggang berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.
  2. Penyiapan Benih
    Bibit yang biasa digunakan untuk budidaya jeruk didapatkan dengan cara generatif dan vegetatif.
  3. Teknik Penyemaian Bibit
    a)Cara generatif
    Biji diambil dari buah dengan cara memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang.

    Areal persemaian memiliki tanah yang subur. Tanah diolah sedalam 30-4- cm dan dibuat petakan persemaian berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1 m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2.

    Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram. Setelah tanam, persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1).
    b)Cara Vegetatif
    Metode yang lazim dilakukan adalah penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh penangkar adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange.
6.2.Pengolahan Media Tanam
Tanaman jeruk ditanam di tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditamani dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini:
1) Keprok dan Siem
: jarak tanam 5 x 5 m
2) Manis: jarak tanam 7 x 7 m
3) Sitrun (Citroen): jarak tanam 6 x 7 m
4) Nipis: jarak tanam 4 x 4 m
5) Grape fruit: jarak tanam 8 x 8 m
6) Besar: jarak tanam (10-12) x (10-12) m

Lubang tanam hanya dibuat pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 20 kg pupuk kandang. Setelah penanaman tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan) berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.
6.3.Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:

1) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan.
2) Pengurangan akar.
3) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.

Setelah bibit ditaman, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang.
Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.
6.4.Pemeliharaan Tanaman
  1. Penyulaman
    Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
  2. Penyiangan
    Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
  3. Pembubunan
    Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
  4. Pemangkasan
    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.

    Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
  5. Pemupukan
    Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:
    a) 1 bulan
    :Urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20 kg/tan.
    b) 2 bulan:Urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40 kg/tan.
    c) 3 bulan:Urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60 kg/tan.
    d) 4 bulan:Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.
    e) 5 bulan:Urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.
    f) 6 bulan:Urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.
    g) 7 bulan:Urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;
    h) 8 bulan:Urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.
    i) >8 bulan:Urea >1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.
  6. Pengairan dan Penyiraman
    Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
  7. Penjarangan Buah
    Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.
7.HAMA DAN PENYAKIT

7.1.Hama
1.
Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.

Gejala: tunas keriting, tanaman mati.
P
engendalian: menggunakan insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang.
2.Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian yang diserang adalah tunas muda dan bunga.
Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).
3.Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian yang diserang adalah daun muda.
Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian: semprotkan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)<>
4.Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian yang diserang adalah tangkai, daun dan buah.
Gejala: bercak keperakperakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian: semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).
5)Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian yang diserang adalah buah.
Gejala: lubang yang mengeluarkan getah.
Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida
Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC)
yang disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.
6)Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian yang diserang Helopeltis antonii.
Gejala: bercak coklat kehitaman dengan
pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian: semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).
7)Ulat penggerek bunga dan puru buah (Prays sp.)Bagian yang diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
Gejala: bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur sebelum tua.
Pengendalian: gunakan insektisida dengan bahan aktif Methomyl (Lannate 25 WP) dan Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yang diserang.
8)Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai dan daun muda.
Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis.
Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.
9)Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian yang diserang adalah tangkai buah.
Gejala: berkas berwarna kuning,
mengering dan buah gugur.
Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu.
10)Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian yang diserang adalah buah yang hampir masak.
Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: gunakan insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC) dicampur dengan Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.
11)Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri.)
Bagian yang diserang daun, buah dan tangkai.
Gejala: daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering dan kulit retak buah gugur.
Pengendalian: gunakan pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).
12)Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)
Bagian yang diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
Gejala: daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.
Pengendalian: perbaiki sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).
7.2.Penyakit
1.
CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yang baik.
2.Tristeza
Penyebab: virus Citrus tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
Gejala: lekuk batang , daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
Pengendalian: perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.
3.Woody gall (Vein Enation)
Penyebab: virus Citrus Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange.
Gejala: Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
Pengendalian: gunaan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.
4.Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang.
Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.
5.Embun tepung
Penyebab: jamur Odidium tingitanium. Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda.
Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian: gunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot
25 EC).
6.Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian: pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).
7.Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yang diserang adalah buah.
Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.
8.Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthoranicotianae. Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.
9.Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga
Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian: Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.
10.Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian yang diserang adalah batang.
Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang yang terinfeksi.
11.Kanker
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai, buah.
Gejala: bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesar dan tampak seperti gabus pecah
dengan diameter 3-5 mm.
Pengendalian: Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper oxychlorida. Selain itu untuk mencegah serangan ulat peliang daun
adalah dengan mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.
8.P A N E N

8.1.Ciri dan Umur Panen
Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung jenis/varietasnya.
8.2.Cara Panen
Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.
8.3.Perkiraan Produksi
Rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.
9.PASCA PANEN

9.1.Pengumpulan
Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dengan diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat terkecil.
9.2.Penyortiran dan Penggolongan
Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk. Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.
9.3.Penyimpanan
Untuk menyimpan buah jeruk, gunakan tempat yang sehat dan bersih dengan temperatur ruangan 8-10 derajat C.
9.4.Pengemasan
Sebelum pengiriman, buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yang tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg.
10.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1.Analisis Usaha Budidaya
Analisis budidaya jeruk manis (Jaffa) skala 1 hektar selama masa tanam 6 tahun di daerah Batu (Malang) tahun 1999.
1) Biaya produksi
a)Sewa lahan 15 tahun @ Rp. 1.000.000,-Rp. 15.000.000,-
b)Bibit 400 tanaman @ Rp. 2.500,-Rp. 100.000,-
c)Pupuk kandang
- Tahun ke-1, 67 m3 @ Rp. 15.000,-
- Tahun ke-2, 83 m3 @ Rp. 15.000,-
- Tahun ke-3, 100 m3 @ Rp. 15.000,-
- Tahun ke-4, 125 m3 @ Rp. 15.000,-
- Tahun ke-5, 150 m3 @ Rp. 15.000,-
- Tahun ke-6, 175 m3 @ Rp. 15.000,-

Rp. 1.005.000,-
Rp. 1.245.000,-
Rp. 1.500.000,-
Rp. 1.875.000,-
Rp. 2.250.000,-
Rp. 2.625.000,-
d)Pupuk Urea
- Tahun ke-1, 80 kg @ Rp. 1.410,-
- Tahun ke-2, 100 kg @ Rp. 1.410,-
- Tahun ke-3, 145 kg @ Rp. 1.410,-
- Tahun ke-4, 152 kg @ Rp. 1.410,-
- Tahun ke-5, 222 kg @ Rp. 1.410,-
- Tahun ke-6, 333 kg @ Rp. 1.410,-

Rp. 112.800,-
Rp. 141.000,-
Rp. 204.450,-
Rp. 214.320,-
Rp. 313.020,-
Rp. 469.530,-
e)Pupuk SP 36
- Tahun ke-1, 65 kg @ Rp. 2.055,-
- Tahun ke-2, 85 kg @ Rp. 2.055,-
- Tahun ke-3, 100 kg @ Rp. 2.055,-
- Tahun ke-4, 100 kg @ Rp. 2.055,-
- Tahun ke-5, 111 kg @ Rp. 2.055,-
- Tahun ke-6, 166 kg @ Rp. 2.055,-

Rp. 133.575,-
Rp. 174.675,-
Rp. 205.500,-
Rp. 205.500,-
Rp. 228.105,-
Rp. 341.130,-
f)Pupuk ZK
- Tahun ke-1, 26 kg @ Rp. 2.550,-
- Tahun ke-2, 50 kg @ Rp. 2.550,-
- Tahun ke-3, 73 kg @ Rp. 2.550,-
- Tahun ke-4, 152 kg @ Rp. 2.550,-
- Tahun ke-5, 333 kg @ Rp. 2.550,-
- Tahun ke-6, 500 kg @ Rp. 2.550,-

Rp. 66.300,-
Rp. 127.500,-
Rp. 186.150,-
Rp. 387.600,-
Rp. 849.150,-
Rp. 1.275.000,-
g)Pupuk Daun
- Tahun ke-1: 3 liter @ Rp. 54.000,-
- Tahun ke-2: 6 liter @ Rp. 54.000,-
- Tahun ke-3: 8 liter @ Rp. 54.000,-
- Tahun ke-4: 10 liter @ Rp. 54.000,-
- Tahun ke-5: 10 liter @ Rp. 54.000,-
- Tahun ke-6: 10 liter @ Rp. 54.000,-

Rp. 162.000,-
Rp. 324.000,-
Rp. 432.000,-
Rp. 540.000,-
Rp. 540.000,-
Rp. 540.000,-
h)Obat dan Pestisida (Antracol, Karathane,Nimrod, Dimecron, dll)
- Tahun ke-1:
- Tahun ke-2:
- Tahun ke-3:
- Tahun ke-4:
- Tahun ke-5:
- Tahun ke-6:

Rp. 3.000.000,-
Rp. 4.400.000,-
Rp. 4.840.000,-
Rp. 5.668.000,-
Rp. 8.400.000,-
Rp. 11.104.000,-
i)Peralatan
- Cangkul 20 buah @ Rp. 15.000,-
- Sprayer 3 buah @ Rp. 300.000,-
- Gunting pangkas 5 bh @ Rp. 50.000,-

Rp. 300.000,-
Rp. 900.000,-
Rp. 250.000,-
j)j. Tenaga kerja :
-
Tenaga tetap 1 or, Rp. 960.000,-/th
-
Pengolahan lahan
Tahun ke-1: 15 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-2-6: 40 HOK, Rp. 200.000/th
-
Buat lubang tanam: 70 HOK @ Rp.5.000
-
Penanaman: 30 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Penyiangan: 20 HOK, Rp. 100.000/th
-
Pemupukan
Tahun ke-1-2: 30 HOK, Rp. 150.000,-/th
Tahun ke-3: 40 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-4: 50 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke 5: 65 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-6: 75 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Pengendalaian HPT
Tahun ke-1: 24 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-2: 36 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-3: 48 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Penyemprotan Hama
Tahun Ke-1: 50 Hok @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-2: 65 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-3: 60 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Penyemprotan penyakit
Tahun ke-1: 20 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-2: 30 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-3: 30 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Penyabutan batang
Tahun ke-2: 16 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-3: 20 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-4: 30 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-5: 50 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-6: 50 HOK @ Rp. 5.000,-
-
Pengairan
Tahun ke-1-3: 30 HOK, Rp. 150.000,-/th
Tahun ke-4-6: 40 HOK, Rp. 200.000,-/th
-
Pemangkasan
Tahun ke-2: 22 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-3: 30 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-4: 50 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-5: 60 HOK @ Rp. 5.000,-
Tahun ke-6: 60 HOK @ Rp. 5.000,-

Rp. 5.760.000,-

Rp. 75.000,-
Rp. 1.000.000,-
Rp. 350.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 600.000,-

Rp. 300.000,-
Rp. 200.000,-
Rp. 250.000,-
Rp. 325.000,-
Rp. 375.000,-

Rp. 120.000,-
Rp. 180.000,-
Rp. 240.000,-

Rp. 250.000,-
Rp. 325.000,-
Rp. 300.000,-

Rp. 100.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 150.000,-

Rp. 80.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 250.000,-
Rp. 250.000,-

Rp. 450.000,-
Rp. 600.000,-

Rp. 110.000,-
Rp. 150.000,-
Rp. 250.000,-
Rp. 300.000,-
Rp. 300.000,-
Jumlah biaya produksi selama 6 tahun Rp. 86.825.305,-

2)Pendapatan (mulai produksi tahun ke-3)a. Tahun ke-3: 1.665 kg @ Rp. 5.000,-/kg
b. Tahun ke-4: 4.995kg @ Rp. 5.000,-/kg
c. Tahun ke-5: 9.990 kg @ Rp. 5.000,-/kg
d. Tahun ke-6: 19.960 kg @ Rp. 5.000,-/kg
Jumlah pendapatan

Rp. 8.325.000,-
Rp. 24.975.000,-
Rp. 49.950.000,-
Rp. 99.800.000,-
Rp.183.050.000,-
3)Keuntungan dalam 6 tahun
Keuntungan rata-rata per tahun
Rp. 96.224.695,-
Rp. 16.037449,17,-
4)Parameter kelayakan usaha
1. B/C rasio

= 2,1

Catatan:
Dalam budidaya jeruk manis (Jaffa), tanaman mulai berproduksi pada tahun ke 3 dan keuntungan mulai didapat mulai tahun ke-4.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Di luar negeri jeruk merupakan komoditi buah-buahan yang sangat penting dengan nilai ekonomi tinggi. Tendensi permintaan buah-buah internasional termasuk jeruk akan meningkat, selain itu diperkiraan permintaan pasar dalam negeri akan meningkat sebesar 10 % per tahun.

Konsumsi jeruk di Indonesia hanya 2,7 kg/orang/tahun, masih jauh dari konsumsi ideal sebesar 6,4 kg/orang/tahun. Dengan konsumsi ideal, diperlukan 1,3 juta ton jeruk/tahun, padahal produksi jeruk di tahun 1996 hanya 793.810 ton/tahun yang saat ini tidak bergerak banyak. Untuk itu masih diperlukan penambahan 50.129 ha kebun jeruk.

Prospek agribisnis jeruk di Indonesia semakin baik karena lahan pertanian untuk buah-buahan meliputi areal jutaan hektar dan potensi peningkatan produksi jeruk juga tinggi karena selama ini kebun jeruk umumnya diusahakan secara tradisional. Selain itu, jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang harganya relatif stabil.
11.STANDAR PRODUKSI

11.1.Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.
11.2.Diskripsi
Jeruk keprok adalah buah dari tanaman jeruk keprok (Citrus reticulata LOUR) yang berkulit mudah dikupas, dalam keadaan cukup tua, utuh segar dan bersih.
11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Jeruk keprok digolongkan dalam 4 (empat) ukuran yaitu kelas A, B, C dan D, berdasarkan berat tiap buah, yang masing-masing digolongkan dalam 2 (dua) jenis mutu, yaitu Mutu I dan Mutu II.
Kelas A: diameter 7,1 cm atau 151 gram/buah.
Kelas B: diameter 6,1–7,0 cm atau 101–150 gram/buah
Kelas C: diameter 5,1–6,0 cm atau 51–100 gram/buah
Kelas D: diameter 4,0–5,0 cm atau 50 gram/buah
Adapun syarat mutu buah jeruk keprok adalah sebagai berikut :
1) Keasamaan sifat varietas: Seragam, cara uji organoleptik
2) Tingkat ketuaan: Tua, tidak terlalu matang, cara uji organoleptik
3) Kekerasan: Cukup keras, cara uji organoleptik
4) Ukuran: Kurang seragam, cara uji SP-SMP-309-1981
5) Kerusakan, % (jml/jml): maks 5-10, cara uji SP-SMP-310-1981
6) Kotoran: bebas, bebas, cara uji organoleptik
7) Busuk % (jml/jml): maks.1-2, cara uji SP-SMP-311-1981
11.4.Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling) sampai diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.
a)Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang diambil 5.
b)Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang diambil 7.
c)Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.
d)Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.
e)Jumlah kemasan dalam partai (lot) lebih dari 1000, contoh yang diambil 15 (minimum).
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.
11.5
Pengemasan
Buah jeruk dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain: nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.
12.DAFTAR PUSTAKA

1.AAK. 1992. Bertanam Pohon Buah-buahan 2. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
2.Rahardi, Yovita H. Indriani & Haryono. 1999. Agribisnis Tanaman Buah. Penebar
Swadaya. Jakarta.
3.Trubus no 340. 1998. Masih Diperlukan Penambahan 50.129 ha Kebun Jeruk.
4.R. Bambang Soelarso, Ir. 1996. Budidaya Jeruk Bebas Penyakit. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
5.Bonus Trubus No. 345. 1998. Celah-celah Usaha Terpilih.

Read More

pembudidayaan semangka

Cara Makalah Tips Tutorial Trik Panduan Buku Mudah Gampang Budidaya Lengkap Terbaru Update Gratis Full Free Usaha Manfaat Tanaman Semangka Kolam Pembibitan Model Persyaratan KonsepBlogiztic.com – Pernahkah anda memakan buah semangka. Anda yang pecinta semangka harus tahu dan mengerti bagaimana dan langkah apa saja yang dilakukan petani dalam menghasilkan panen semangka. Perlu anda tahu ya, Indonesia kaya akan budidaya Alam dan seharusnya kita sebagai generasi pemuda harus melestarikannya.

Bagaimana dan cara yang tepat dalam berbudidaya tanaman semangka. Mari kita pelajari sama-sama dalam informasi berbudidaya tanaman semangka. Blogiztic akan mengulas informasi berbudidaya tanaman semangka yang benar dan tepat sebagai berikut.
Syarat pertumbuhan
- Curah hujan yang ideal antara 40-50 mm/bulan.
- Perlu sinar matahari yang cukup.
- Suhu optimal leih kurang 250 derajat celcius.
- Dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl.
Mode tanam
- Tanah harus gembur.
- Banyak terdapat bahan organik.
- Keasaman tanah alias pH 6-6,7.
Penyiapan Media semai
- Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
- Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.
Teknik perkecambahan benih semangka
Benih dimasukkan ke dalam kain dan direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.
Pensemaian benih
- Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
- Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 – 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.
Pembukaan lahan
Pembajakan dilakukan dan diusahakan jangan samapai ada perakaran dan batu.
Pembentukan bendengan
Lebar bendengan 6-8 cm dengan tinggi 20 cm.
Pengapuran tanah
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
Pemupukan pertama
Dilakukan 600/ha pada saat seminggu sebelum tanam.
Pembuatan lubang tanam
Kedalam yang ideal antara 8-10 cm dengan jarak 0-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
Waktu penanaman
Pagi atau sore dan dilakukan penyiraman.
Lain-lain dalam berbudidaya tanaman semangka
Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.
Teknik Penanaman
3.3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.
Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam.


Penyiangan
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.
Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.
Pemupukan
Cara Makalah Tips Tutorial Trik Panduan Buku Mudah Gampang Budidaya Lengkap Terbaru Update Gratis Full Free Usaha Manfaat Tanaman Semangka Kolam Pembibitan Model Persyaratan Konsep
Pengairan dan Penyiraman tanaman semangka
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan karena mangganggu proses pertumbuhan.
Masa wajtu penyemprotan
Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21 – 70 hari, interval 7 hari sekali.
Pemeliharaan Lain dalam budidaya semangka
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.
Panen
Ada beberapa ciri-ciri saat buah akan panen
- sudah berumur 70-100 hari setelah awal penanaman.
- terjadi perubahan warna buah
- batang buah mulai mengecil
Cara panen dapat dilakukan
Pada saat caca cerah dan pemetikan buah harus dengan tangkainya.
Cara Makalah Tips Tutorial Trik Panduan Buku Mudah Gampang Budidaya Lengkap Terbaru Update Gratis Full Free Usaha Manfaat Tanaman Semangka Kolam Pembibitan Model Persyaratan KonsepBlogiztic.com – Pernahkah anda memakan buah semangka. Anda yang pecinta semangka harus tahu dan mengerti bagaimana dan langkah apa saja yang dilakukan petani dalam menghasilkan panen semangka. Perlu anda tahu ya, Indonesia kaya akan budidaya Alam dan seharusnya kita sebagai generasi pemuda harus melestarikannya.

Bagaimana dan cara yang tepat dalam berbudidaya tanaman semangka. Mari kita pelajari sama-sama dalam informasi berbudidaya tanaman semangka. Blogiztic akan mengulas informasi berbudidaya tanaman semangka yang benar dan tepat sebagai berikut.
Syarat pertumbuhan
- Curah hujan yang ideal antara 40-50 mm/bulan.
- Perlu sinar matahari yang cukup.
- Suhu optimal leih kurang 250 derajat celcius.
- Dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl.
Mode tanam
- Tanah harus gembur.
- Banyak terdapat bahan organik.
- Keasaman tanah alias pH 6-6,7.
Penyiapan Media semai
- Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
- Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.
Teknik perkecambahan benih semangka
Benih dimasukkan ke dalam kain dan direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.
Pensemaian benih
- Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
- Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 – 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.
Pembukaan lahan
Pembajakan dilakukan dan diusahakan jangan samapai ada perakaran dan batu.
Pembentukan bendengan
Lebar bendengan 6-8 cm dengan tinggi 20 cm.
Pengapuran tanah
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
Pemupukan pertama
Dilakukan 600/ha pada saat seminggu sebelum tanam.
Pembuatan lubang tanam
Kedalam yang ideal antara 8-10 cm dengan jarak 0-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
Waktu penanaman
Pagi atau sore dan dilakukan penyiraman.
Lain-lain dalam berbudidaya tanaman semangka
Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.
Teknik Penanaman
3.3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.
Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam.


Penyiangan
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.
Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.
Pemupukan
Cara Makalah Tips Tutorial Trik Panduan Buku Mudah Gampang Budidaya Lengkap Terbaru Update Gratis Full Free Usaha Manfaat Tanaman Semangka Kolam Pembibitan Model Persyaratan Konsep
Pengairan dan Penyiraman tanaman semangka
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan karena mangganggu proses pertumbuhan.
Masa wajtu penyemprotan
Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21 – 70 hari, interval 7 hari sekali.
Pemeliharaan Lain dalam budidaya semangka
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.
Panen
Ada beberapa ciri-ciri saat buah akan panen
- sudah berumur 70-100 hari setelah awal penanaman.
- terjadi perubahan warna buah
- batang buah mulai mengecil
Cara panen dapat dilakukan
Pada saat caca cerah dan pemetikan buah harus dengan tangkainya.


Read More

pembudidayaan rambutan

Budidaya tanaman rambutan

A. Latar belakang

Rambutan ( Nephelium sp. ) merupakan tanaman buah hortikultura berupa pohon dengan family Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis.


B. Manfaat dan Ruang Lingkup
Tanaman buah rambutan sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya yang mempunyai gizi, zat tepung, sejenis gula yang mudah terlarut dalam air, zat protein dan asam amino, zat lemak, zat enzim-enzim yang esensial dan nonesensial, vitamin dan zat mineral makro, mikro yang menyehatkan keluarga, tetapi ada pula sementara masyarakat yang memanfaatkan sebagai pohon pelindung di pekarangan, sebagai tanaman hias.

Di dalm usaha tani rambutan, hama dan penyakit merupakan kendala penting. Sebab hal ini ikut menentukan keberhasilan maupun kegagalan budidayanya.

A. Hama pada Daun
Hama tanaman rambutan berupa serangga seperti semut, kutu, kepik, kalong dan bajing serta hama lainnya seperti, keberadaan serangga ini dipengaruhi oleh lingkungan baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik. Misal:
1. Ulat pengerek buah (Dichocricic punetiferalis)
Binatang ini membuat buah berwarna kecoklat-coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi kering dan berwarna hitam.

2. Ulat pengerek batang (Indrabela sp)
Binatang ini membuat kulit kayu dan mampu membuat lubang sepanjang 30 cm.

3. Ulat pemakan daun (Ploneta diducta/ ulat keket)
Binatang ini memakan daun-daun terutama pada musim kemarau.

4. Ulat Jengkal (Berta chrysolineate)
Binatang ini pemakan daun muda sehingga pinggiran menjadi kering, keriting berwarna coklat kuning.




B. Penyakit
Penyakit tanaman rambutan umumnya disebabkan oleh:
1. Ganggang (Cjhephaleusos sp)
Pada umunya organisme ini menyerang daun tua dan muncul pada musim hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak kecil di bagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya.

2. Ganggang Chaphaleuros kesimbose dengan lumut kerak (Lichen)
Organisme ini dapat dijumpai pada daun dan batang rambutan, yang nampak seperti panu sehingga ranting yang diserang dapat mati.

3. Jamur (Rigidoporus Lignosus)
Jamur ini menyerang dengan tanda rizom berwarna putih yang menempel pada akar dan apabila akar yang kena jamur ini dikupas akan nampak berwarna kecoklatan.

C. Gulma
Segala macam tumbuhan pengganggu tanaman rambutan yang berbentuk rerumputan yang berada di sekitar tanaman rambutan yang akan mengganggu pertumbuhan perkembangan bibit rambutan oleh sebab itu perlu dilakukan penyiangan secara rutin.

D. Iklim
1. Dalam budidaya rambutan angin berperan dalam penyerbukan bunga.
2. Intensitas curah hujan yang dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun.
3. Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak dia terbit sampai tenggelam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan.
4. Tanaman rambutan akan dapat utmbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 25 derajat C yang di ukur pada siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).
5. Kelembaban udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban yang rendah, berarti uadara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan.

Pembahasan

A. Persiapan Lahan
1. Persiapan
Pilihlah tanah yang subur, hindari daerah yang berkondisi tanahnya terlampau liat dan tidak memiliki sirkulasi yang baik, meskipun pada daerah perbukitan tetapi tanahnya subur dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian yang curam, kemudian untuk menggemburkan tanah perlu di bajak atau cukup dicangkul dengan kedalaman sekitar 30 cm secara merata.

2. Pembukaan Lahan
Tanah yang akan dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua secara bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan dibuang dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul. Bila bibit berasal dari cangkokan pengolahan tanha tidak perlu terlalu terlalu dalam tetapi kalau hasil dari okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan saluran air selebar 1 meter dan kedalaman disesuaikan dengan kedalaman air tanha, guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang kurang humus dan kurus atau cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat dengan cara mengubur ranting-ranting dan dedaunan, kemudian kondisi ini dibiarkan salama kurang lebih 1 tahun sebelumnya.

3. Pembentukan Bedengan
Setelah tanah gembur kemudian buatkan bedeng-bedengan yang berukur 8 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm dengan peralatan dasar atasnya guna menopang bibit yang akan ditanam, panjang disesuaikan dengan luas pekarangan atau persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan banyak sinar matahari pagi walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak antara bedeng 1 m yang diharapkan untuk lalu-lintas para pekerja dan dapat dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, dan untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah matang.

4. Pengapuran
Pengapuran pada dataran yang berasal dari tambak dan juga dataran yang baru terbentuk tidak bisa ditanami,selain tanah masih bersifat asam juga belum terlalu subur, setelah lubang-lubang itu digali dengan ukuran penanaman di pekarangan dan dasarnya ditaburkan kapur sebanyak 0.5 liter untuk tiap lubang guna menetralkan pH tanah hingga mencapai 6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman rambutan, setelah 1 minggu dari penaburan kapur di beri pupuk kandang supaya tanah menjadi subur.

5. Pemupukan
Setelah jangka waktu 1 minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang yang ditentukan kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang lebih 1 blek) dan setelah 1 minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit rambutan yang telah jadi.

B. Perkembangbiakan

Perkembangbiakan tanaman rambutan dapat dilakukan dengan cara generatif (biji).

1. Persyaratan Benih
Benih yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat konsumen antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus, Rambutan Cimancan, Rambutan, Rambutan Sinyonya.

2. Penyiapan Benih
Persiapan benih biji yang digunakan sebagai pohon pangkal setelah buah dikupas dan diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (di tahan selama 1-2 hari) sesudah itu diangin-anginkan selama 24 jam dan biji siap disemaikan. Disamping itu dapat pula direndam dengan larutan asam dengan perbandingan 1:2 dari air dan larutan asam yang terdiri dari asam chloride (HCl) 25% atau asam sulfat (H2SO4) BJ=1.84, caranya direndam selama 15 menit kemudian dicuci dengan air tawar yang bersih sebanyak 3 kali berulang dengan menghindari jamur biji dapat dibalur dengan larutan Dithane 45, Attracol 70 WP atau fungisida lainnya.

3. Tekhnik Penyemaian Benih
Tekhnik penyemaian benih dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat pengairan serta mudah dikeringkan disamping itu mudah diawasi seperti: mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil dibersihkan dari rumput-rumput, batu-batu dan sisa pepohonan dan benda keras lainnya. Kemudian tanah dihaluskan sehingga menjadi gembur dan buatkan bedeng-bedeng yang berukuran 1-1.5 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm, panjang disesuaikan dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan banyak sinar matahari walaupun diberi atap pelindung, dengan jarak antara bedeng 30 cm dan untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kopos/pupuk kandang yang sudah matang dan benih siap disemaikan. Selain dengan melalui proses pengecambahan juga biji dapat langsung ditunggalkan pada bedeng-bedeng yang sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon pangkal lebih baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebuit ditanam pada bedeng-bedeng dengan jarak 10X10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1.5 bulan dan sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat dipindahkan dari bedeng persemaian ke bedeng penanaman.

4. Pemelihaan Pembibitan/Penyemaian
Setelah bibit berkecambah dan talah berumur 1-1.5 bulan disiram pagi sore, setelah berkecambah dipindah ke bedeng pembibitan, penyiraman cukup 1 kali tiap pagi hari sampai menjelang matahari terbit, dengan menggunakan “gembor” supaya merata dan tidak merusak bedengan dan diusahakan air dapat menembus sedalam 3-4 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan pendangiran bedengan supaya tetap gembur dan dilakukan setiap 2-3 minggu sekali, rumput yang tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari serangan hama penyakit,sampai umur kurang lebih 1 tahun persemaian yang dilakukan terhadap pohon baru setelah itu dapat dilakukan pengokulasian yang ditentukan dengan sistem Fokkert yang sudah disempurnakan yang sebelumnya daun-daun dirontokkan pada pohon induk yang telah dipillih mata kulitnya dan kemudian setelah disiapkan tempat untuk penempelan mata kulit tersebut sampai mata kulit tersebut tumbuh tunas, setelah itu tunas asli pada pohon induk yang telah do temple kemudian dipangkas, kemuduian rawat dengan penyiraman 2 kali sehari dan mendangir serta membersihkan rumput-rumput yang ada disiangi, kemudian dapat juga diberi pupuk urea 10 gram untuk tipa 1 m2 untuk 25 tanaman rambutan.

C. Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Karena kondisi tanah telah gembur dan mudah tanaman lain akan tumbuh kembali terutama gulma (tanaman pengganggu) seperti rumput-rumputan dan harus disiangi sampai radius 1-2 m sekeliling tanaman rambutan. Apabila bibit tidak tumbuh dengan baiik segera dilakukan penggantian denga bibit cadangan.

2. Perempalan
Agar supaya tanaman rambutan medapatkan tajuk yang rimbun, setelah tanaman berumur 2 tahun segera dilakukan penempelan/pemangkasan pada ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk memperoleh tajuk yang seimbang juga berguna memberi pupuk tanaman, memperbanyak dan mengatur produksi agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan juga perlu dilakukan setelah masa panen buah berakhir dengan harapan muncul tajuk-tajuk baru sebagai tempat munculnya bunga baru pada musim berikunya dan hasil berikutnya dapat meningkat.

3. Pemupukan
Untuk menjaga kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu diberikan pupuk secara berkala dengan aturan:
a. Pada tahun ke 2 setelah penanaman bibit diberikan pada setiap pohon dengan campuram 30 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea dan 20 germ ZK dengan cara ditaburkan disekeliling pohon/dengan jalan menggali disekeliling pohon sedalam 30 cm selebar antara 40-50 cm, kemudian masukkan camouran tersebut dan tutup kembali dengan tanah galian sebelumnya.
b. Tahun berikutnya dosis pemupukan perlu ditambah dengan komposisi 50 kg pupuk kandang, 60 kg TSP, 150 gram Urea dan 250 gram ZK dengan cara pemupukan yang sama, apabila menggunakan pupuk NPK maka perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran antara lain 75-125 kg untuk setiap ha, dan bila ditabur dalam musim hujan dan dengan komposisi 250-350 kg apabila dilakukan saat awal musim penghujan.

4. Pengairan dan Penyiraman
Selama dua minggu pertama setelah bibit yang berasal dari cangkokan/okulasi ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak 2 kali sehari, pagi dan sore. Dan minggu-minggu berikutya penyiraman dapat dikurangi menjadi 1 kali sehari. Apabila tanaman rambutan telah tumbuh benar-benar kuat, frekuensi penyiraman dapat dikurangi kembali yang dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja. Dan bila turun terlalu lebat diusahakan agar sekeliling tanamaan tidak tergenang air dengan cara membuat lubang saluran untuk mengalirkan air.

5. Waktu Penyemprotan Pestisida
Guna mencegah kemungkinan tumbuhnya penyakit atau hama karena kondisi cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida umunya dilakukan antara 15-20 hari sebelum panen dan juga apabila kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan, apabila musim penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali selama musim hujan pestisida dan insektisida.


D. Pemberantasan Hama dan Penyakit

Dalam menghadapi hama dan penyakit, perlu diperhatikan bahwa pestisida yang digunakan jangan sampai membunuh serangga yang membantu penyerbukan.

E. Panen

1. Ciri dan Umur Panen
Buah rambutan yang telah matang dengan cirri-ciri melihat warna yang disesuaikan dengan jenis rambutan yang ada juga dengan mencium baunya serta yang terakhir dengan merasakan rambutan yang telah masak dibandingkan dengan rambutan yang belum masak, dapat dipastikan bahwa pemanenan dilakukan sekitar bulan November sampai Februairi, juga dapat dipengaruhi musim kemarau atau musim penghujan.

2. Cara Panen
Cara pemanenan yang terbaik adalah dipetik bersama tungkalnya yang sudah matang (hanya yang sudah masak) sekaligus melakukan pemangkasan pohon agar tidak menjadi rusak. Pemangkasan dilakukan sekaligus panen agar dapat bertunas kembali cepat berbuah apabila pemetikan tidak terjangkau dapat dilakukan dengan menggunakan galah untuk mengkait tangkai buah rambutan secara benar.

3. Periode Panen
Periode pemanenan buah rambutan dilakukan pada sekitar bulan November sampai dengan Februari (masa musim penghujan). Dengan dicari buah yang masak dan yang belum masak supaya ditinggal dulu dan kemudian dipanen kembali.

4. Perkiraan Produksi
Apabila penanganan dan pemeliharaan semenjak pembibitan hingga panen dilakukan secara baik dan benar serta memenuhio aturan yang ada maka dapat diperkirakan mendapatkan hasil yang maksimal. Setiap satu pohonnya dapat mencapai hasil minimal 0.10 kuintal dan maksimal dapat mencapai 1.75 kuintal setiap pohonnya.


F. Pascapanen

1. Pengumpulan
Setelah dilakukan pemanenan yang benar buah rambutan harus diikat secara baik, biasanya dikumpulkan tidak jauh dari lokasi pohon sehingga selesai pemanenan secara keseluruhan.

2. Penyortiran dan Penggolongan
Tujuan penyortiran buah rambutan yang bagus agar harga jualnya tinggi, biasanya dipilih berdasarkan ukuran dan mutunya, yang biasanya dijual dalam bentuk ikatan dan perlu diingat bahwa dalam 1 ikatan diusahakan sama besar dan sama baik mutunya. Dan dilakukan sesuai dengan jenis rambutan, jangan dicampur adukkan dengan jenis lain.

3. Penyimpanan
Penyimpanan yang terbaik untuk mengawetkan buah rambutan biasanya dilakukan dengan jalan dibuat asinan/manisan dan dimasukkan dalam kaleng/botol atau dapat juga dengan menggunakan kantong plastic. Hal ini dapat menjaga kesterilan dan ketahanan serta lama penyimpanannya.

4. Pengemasan dan Pengangkutan
Hasil jual dapat tinggi tidak tergantung dari rasanya saja, tetapi pada kenempakan dan cara pengikatannya, apabila akan dijual tidak jauh dari lokasi maka cukup diikat dan kemudian diangkut dengan kendaraan/dimasukkan dalam karung. Untuk pengiriman dengan jarak yang agak jauh (antar pulau) yang membutuhkan waktu hingga 2-3 hari lamanya perjalanan rambutan. Caranya dipak dengan menggunakan peti sebelum dipilih dan sebelum dipak sebaiknya dicuci dahulu dengan air sabun dan dibilas kemudian dikeringkan, setelah dipisah dari tangkainya, apabila ada yang terkena jamur sebaiknya direndam terlebih dahulu dengan larutan soda 1,5% selama 3,5 menit kemudian disikat dengan sikat yang lunak. Setelah itu disusun berderet berbentuk sudut terhadap sisi peti, yang sebelumnya dialasi dengan lumut/sabut kelapa, setelah itu dilapisi dengan kertas minyak. Setelah penuh lapisan atas dilapisi lagi dengan kertas minyak dan dengan sabut kelapa yang terakhir ditutup dengan papan, sebaiknya kedua sisi panjang dibentuk agak gembung, biasanya penempatan peti bagian yang pendek ditempatkan dibawah didalam perjalanan.

G. Klasifikasi dan Standar Mutu

Buah rambutan segar untuk masing-masing kultvar, digolongkan dalam 2 jenis, yaitu: Mutu I dan Mutu II

Klasifikasi berdasarkan ukuran berat adalah sebagai berikut:
a. Binjai : besar maksimum 20 kg; kecil : > 20 kg
b. Lebak Bulus : besar maksimum 35 kg; kecil : >35 kg
c. Rapiah : besar maksimum 30 kg; kecil : > 30 kg
d. Simacan : besar maksimum 40 kg; kecil : > 40 kg

Persyaratan mutu untuk buah rambutan adalah sebagai berikut:
a. Keseragaman Kultivar : mutu I seragam; mutu II seragam
b. Keseragaman Ukuran : mutu I seragam; mutu II kurang seragam
c. Tingkat Kesatuan Buah : mutu I tepat; mutu II kurang tepat
d. Tingkat Kesegaran Buah : mutu I segar; mutu II kurang segar
e. Buah cacat/busuk : mutu I 0%; mutu II 0%
f. Bentuk Ikatan : mutu I maks 10 cm; mutu II maks 10 cm
g. Bentuk Buah Lepas : mutu I maks 0,5 cm; mutu II maks 0,5 cm
h. Kadar Kotoran : mutu I 0%; mutu II 0%
i. Serangga hidup/mati : mutu I tidak ada; mutu II tidak ada
Read More