• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

pembudidayaan buah naga

BUDIDAYA BUAH NAGA DI KEBUN


Pembudidayaan buah naga untuk usaha produksi dilakukan dikebun. Untuk menghasilkan produksi yang maksimal tentu saja harus dengan persiapan yang matang, perawatan yang baik dan penanggulangan gangguan penyakit yang tepat. Berikut ini kegiatan pembudidayaan diulas secara lengkap :

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah adalah faktor penting yang harus diperhatikan agar tanaman buah naga bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Perakaran buah naga memerlukan tanah yang gembur karena perakarannya merayap dipermukaan tanah, apabila tanah terlalu keras atau liat, akar tidak bisa tumbuh baik pada tanah.

Sebelum digemburkan sebaiknya tanah dibersihkan dari gulma dan rerumputan untuk menghindari penyakit. Setelah itu tanah digemburkan dengan mencangkul sedalam satu cangkulan dengan dibolak-balik. Setelah itu dibuat lubang-lubang tanam sesuai dengan cara tanamnya apakah menggunakan system panjatan tunggal atau sistem kelompok

Pada sistem panjatan tunggal pengolahan tanah hanya dilakukan disekitar lubang tanam saja, berbeda dengan sistem kelompok pengolahan tanah dilakukan pada seluruh alur barisan tempat penanaman.

Media tanam untuk panjatan tunggal menggunakan campuran tanah galian diberi pasir sekitar 5 kg, bubuk bata merah 5 kg, pupuk kandang kering 10 kg dan dolomit 300 g kemudian dicampur sampai merata.

Pada model sistem tanam berkelompok untuk setiap alur sepanjang 4 m media tanamnya yaitu pasir 8 kg, pupuk kandang 20 kg dan bisa ditambahkan bubuk bata merah sebanyak 10 kg apabila tanah terlalu porous. Jika tidak menggunakan bubuk bata merah , jumlah pupuk kandang ditambahkan 10 kg lagi jadi total 30 kg. Ditambah dolomit yang mengandung magnesium sebanyak 600g. Bahan-bahan tersebut dicampur merata pada tanah galian.

Setelah penyiapan media tanam selesai kemudian disiram dan biarkan terkena matahari sampai kering. Pengeringan ini bertujuan agar tanah terbebas dari racun dan penguapan lain.

Sistem Pengairan
Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, system cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada disekitar lahan. Bisa menggunakan cara pengairan tradisional yaitu system leb yaitu menggunakan parit sedalam 20 cm yang dibuat disekitar barisan tanaman. Atau juga bisa menggunakan system pengairan pipa yang dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air pada seluruh tanaman.

Penanaman Pada Lahan
Penanaman bibit lahan tanam yang harus diperhatikan adalah kedalaman yang terlalu dalam malah akan menghambat pertumbuhannya. Kedalaman penanaman adalah 20% dari panjang bibit. Misal bibit yang mau ditanam berukuran panjang 50-80 cm maka kedalamannya sekitar 10-15 cm. Sebelum ditanam sebaiknya bibit setek diolesi Ridomil sebanyak 40 g yang dicampur dengan 1 liter air untuk mencegah kebusukan pada pangkal batang setek.

Read More

pembudidayaan ikan tuna

Budidaya Ikan Tuna

Rekan2, berikut ini saya posting artikel mengenai Ikan Tuna untuk dibudidayakan, karena indikasinya makin lama makin merosot dari segi jumlah dan ukuran.
salam,
dwi

Kompas Rabu, 30 April 2003
Bila Ikan Tuna Masuk Kolam
TUNA adalah jenis ikan yang senang melanglang buana. Secara bergerombol, ribuan ikan tuna sirip biru selatan (southern blue fin tuna), misalnya, bisa berpindah dari Samudera Hindia ke sebelah barat Benua Australia hingga Samudera Selatan dekat Kutub. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jenis ikan pelagis ini tergolong sulit ditangkap.
Untuk menaklukkannya, mereka mengembangkan berbagai jenis alat tangkap dari yang sederhana hingga modern dengan daya tangkap yang intensif. Tak heran dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan telah terjadi penurunan jumlah tangkapan ikan penjelajah itu.
Menurut Sam Simorangkir, Ketua I Asosiasi Tuna Indonesia, menurunnya hasil tangkapan ikan tuna di dunia telah terlihat sejak tiga tahun terakhir, yaitu dari produksi 3,9 juta ton pada tahun 1999 menjadi 3,6 juta ton tahun 2002.
Selain jumlah, ia pun menyebut adanya kecenderungan penurunan berat per ekor dalam seperempat abad terakhir ini, yaitu dari 37 kilogram (kg) rata-rata per ekor pada tahun 1973 menjadi 26 kg pada tahun 1999. Hal tersebut menunjukkan menurunnya populasi tuna karena penangkapan berlebih dan berkurangnya ketersediaan serta kualitas sumber pakannya. Populasi tuna di alam yang terus menurun itu belum juga mendorong upaya pengurangan kegiatan penangkapannya. Akibatnya, ikan tuna kini terancam populasinya di muka Bumi.Dalam pertemuan Convention on International Trade in Endangered Species on Wild Fauna And Flora (CITES) pada tahun 1992, telah dinyatakan bahwa ikan tuna sirip biru yang banyak ditangkap di Samudera Pasifik merupakan spesies yang nyaris punah.
Budidaya tuna
Melihat kecenderungan itu, Jepang sebagai konsumen terbesar dari semua jenis ikan tuna menjadi khawatir. Karena itu, bangsa penggemar ikan ini merintis upaya budidaya tuna sebagai upaya mengurangi eksploitasi ikan tuna di laut. Mereka mengembangkan teknik budidaya tuna jenis sirip biru utara (northern blue fin tuna).
Dengan keberhasilan itu, Jepang menjadi negara pertama yang membudidayakan ikan pelagis ini dari mulai tahap pemijahan.
Saat ini, budidaya yang dilakukan masih terbatas pada upaya pembesaran, yaitu menangkap anak tuna kemudian dibesarkan di jaring terapung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Anak ikan tuna sirip biru yang beratnya 1 kg hingga 5 kg akan dipelihara hingga 2 tahun untuk mencapai berat yang layak dipasarkan. Produksi ternak tuna dari negeri kanguru ini mencapai 7.500 ton tahun lalu.
Selain Australia, beberapa negara Mediterania (seperti Spanyol, Italia, Maroko, Portugis, Malta, Kroasia, dan Turki), Meksiko, dan Jepang telah melakukan upaya pembesaran ikan tuna. Dari negara Mediterania dihasilkan 11.300 ton tuna sirip biru, sedangkan Jepang 3.000 ton tuna jenis yang sama.
Namun, untuk membesarkan tuna, masing-masing negara menerapkan periode pembesaran dan ukuran tuna tangkapan yang berbeda. Jepang membesarkan tuna mulai dari ukuran 100 gram hingga 500 gram selama dua hingga tiga tahun, sedangkan kelompok negara Mediterania, tuna dipelihara selama 6 bulan saja, namun berat tuna yang ditangkap dari alam bobotnya 50-200 kg.
Jepang kini telah selangkah lebih maju dengan melakukan pemijahan. Tidak cukup memijah tuna sirip biru, peneliti tuna dari Negeri Matahari terbit ini menyeberang ke Benua Amerika, menjalin kerja sama dengan Panama yang menjadi eksportir tuna terbesar dari Amerika Latin.
Program budidaya tuna jenis albacore di Panama sudah dilakukan delapan tahun lalu. Budidaya itu kini juga sudah sampai tahap pemijahan hingga pembesaran. Namun, pembenihan ikan tuna yang dilakukan sejak tahun 1997 hingga saat ini masih dalam skala laboratorium.
Perhatian Jepang kini beralih ke Indonesia sebagai negara pemasok ikan tuna terbesar ke Jepang. Jepang memang merupakan importir tuna terbesar dari Indonesia. Pada kurun waktu dari Januari hingga Juni 2002 Jepang mengimpor 31.578 ton tuna dari seluruh dunia, sebanyak 9.455 ton di antaranya berasal dari Indonesia.
Karena itu, Jepang menganggap kerja sama riset tuna dengan Indonesia merupakan hal penting, seperti yang dikemukakan Presiden Overseas Fishery Cooperation Foundation (OFCF) Junji Kawai saat meresmikan fasilitas riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Gondol, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (22/4) lalu.
Riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Gondol, Bali, diharapkan dapat mengurangi penangkapan ikan tuna di perairan Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk negara dengan jenis tuna terbanyak. Ada enam jenis ikan tuna yang dijumpai di perairan Indonesia, yaitu tuna mata besar (big-eye), tuna sirip biru selatan, tuna sirip kuning (yellow fin tuna), albacore, dan tuna ekor panjang (longtail).
Komoditas ekspor
Bagi Indonesia, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, riset tuna merupakan program terobosan yang mempunyai nilai penting. Karena, ikan tuna bagi Indonesia merupakan komoditas ekspor terbesar kedua setelah udang. Dari nilai ekspor sebesar 2 miliar dollar AS per tahun, 20 persen disumbang dari ikan tuna. Ekspor tuna total dari Indonesia mencapai 200.000 ton per tahun.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) saat ini telah menempatkan budidaya perikanan sebagai program unggulan. Selain ikan tuna, ikan laut yang berhasil dipijah di fasilitas riset budidaya milik DKP meliputi udang, bandeng, kerapu, kakap merah, kepiting, dan teripang.
Untuk melaksanakan riset tuna itu, lembaga Jepang menunjukkan keseriusannya dengan memberi bantuan hibah untuk pembangunan fasilitas pembenihan atau hatchery sebesar Rp 10 miliar dan menyediakan tenaga ahli. Nilai hibah yang akan diberikan sebesar 2, 9 juta dollar AS untuk program riset hingga akhir tahun 2003.
Dalam hal ini, pihak Indonesia akan menyediakan lahan dan tenaga teknis. Pelaksanaan kerja sama yang akan berlangsung hingga tahun 2005 mulai dilakukan setelah penandatanganan kerja sama antara kedua belah pihak pada 21 Agustus 2001.
Riset tuna di Gondol, Bali, jelas Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Susilo, diawali dengan menangkap induk tuna di laut. "Saat ini baru tertangkap 5 induk tuna yang telah dipelihara di bak atau kolam khusus," jelasnya.
Kemudian akan dilakukan riset pembiakan dari telur menjadi gonad. Tahap berikutnya adalah riset pakannya agar berprotein namun tidak membuatnya gemuk sehingga sesuai dengan pakan alaminya. Pada tahap terakhir riset yang direncanakan selama tiga tahun ini adalah riset penyakit dan obatnya.
Dalam pelaksanaan budidaya tuna, ujar Kepala Pusat Perikanan Budidaya DKP Ketut Sugama, ada beberapa tingkat kesulitan, antara lain pada penangkapan induk tuna di alam. Karena kegesitan gerak ikan ini diperlukan kapal berkecepatan tinggi. Penangkapannya dengan pancing juga harus diatur agar tidak membuat bakal induk tuna itu mati karena luka atau kekurangan air selama dalam penyimpanan di kapal.
Tuna yang biasa bergerak lincah ini bila dipelihara di kolam akan mengalami peningkatan pesat bobot tubuhnya. Tuna sirip kuning yang diteliti beratnya saat ditangkap 4 kg. Namun, setelah dipelihara selama dua tahun dalam jaring apung di laut bisa menjadi 80 kg. Namun, bila dipelihara di kolam, ikan ini akan kurang bergerak sehingga kandungan lemaknya akan naik cepat dari sekitar 0,1 hingga 0,5 persen berat tubuhnya menjadi 10 hingga 20 persen dalam waktu dua bulan.
Peternakan tuna
Budidaya tuna sebenarnya telah mulai dirintis lima tahun lalu oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan mengembangkan sistem jaring apung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Di negara benua ini, tuna berukuran kecil ditangkap dari alam dengan towing cage kemudian dipindahkan ke sangkar jaring di tepi pantai. Tuna dipelihara sampai mencapai ukuran ekonomis tertentu, baru dijual.
Husni Amrullah, peneliti BPPT yang pernah menjadi Koordinator Tim Studi Tuna, menjelaskan, tujuan dari uji coba budidaya tuna yang rencananya akan dilakukan di Pulau Seram, Ambon, itu untuk meningkatkan perekonomian nelayan di Kawasan Timur Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk 10 besar negara pengekspor tuna, namun tuna Indonesia dihargai rendah karena kualitas hasil tangkapannya rendah.
"Sistem penampungan sementara di jaring terapung atau kolam khusus dekat pantai dapat mengatasi masalah itu," ujar Husni yang pernah diperbantukan di DKP sebagai Direktur Pembenihan Ditjen Perikanan Budidaya DKP.
Pada program budidaya tuna BPPT beberapa tahun lalu, sempat dijalin kerja sama dengan Latoka Mina Raya untuk melakukan riset bersama dan mengkaji kelayakannya dari berbagai sudut, termasuk segi ekonomisnya. Dalam hal ini diusulkan kegiatan ini masuk dalam program Riset Unggulan Kemitraan. Program itu sayangnya berhenti sampai tahap awal karena kendala pendanaannya.
Menurut dia, upaya penangkapan ikan tuna muda untuk budidaya bisa dilakukan dengan dua tujuan, untuk pembesaran semata lalu dipasarkan dan mencari induk untuk tujuan pemijahan.
Namun, budidaya untuk tujuan pembesaran di jaring apung ini memerlukan biaya yang mahal. Apalagi pemeliharaannya di kolam memerlukan sistem sirkulasi dan pengaturan kondisi lingkungan kolam yang sesuai dengan habitat ikan tuna tersebut. (yun)

Read More

pembudidayaan ikan tuna

Budidaya Ikan Tuna

Rekan2, berikut ini saya posting artikel mengenai Ikan Tuna untuk dibudidayakan, karena indikasinya makin lama makin merosot dari segi jumlah dan ukuran.
salam,
dwi

Kompas Rabu, 30 April 2003
Bila Ikan Tuna Masuk Kolam
TUNA adalah jenis ikan yang senang melanglang buana. Secara bergerombol, ribuan ikan tuna sirip biru selatan (southern blue fin tuna), misalnya, bisa berpindah dari Samudera Hindia ke sebelah barat Benua Australia hingga Samudera Selatan dekat Kutub. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jenis ikan pelagis ini tergolong sulit ditangkap.
Untuk menaklukkannya, mereka mengembangkan berbagai jenis alat tangkap dari yang sederhana hingga modern dengan daya tangkap yang intensif. Tak heran dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan telah terjadi penurunan jumlah tangkapan ikan penjelajah itu.
Menurut Sam Simorangkir, Ketua I Asosiasi Tuna Indonesia, menurunnya hasil tangkapan ikan tuna di dunia telah terlihat sejak tiga tahun terakhir, yaitu dari produksi 3,9 juta ton pada tahun 1999 menjadi 3,6 juta ton tahun 2002.
Selain jumlah, ia pun menyebut adanya kecenderungan penurunan berat per ekor dalam seperempat abad terakhir ini, yaitu dari 37 kilogram (kg) rata-rata per ekor pada tahun 1973 menjadi 26 kg pada tahun 1999. Hal tersebut menunjukkan menurunnya populasi tuna karena penangkapan berlebih dan berkurangnya ketersediaan serta kualitas sumber pakannya. Populasi tuna di alam yang terus menurun itu belum juga mendorong upaya pengurangan kegiatan penangkapannya. Akibatnya, ikan tuna kini terancam populasinya di muka Bumi.Dalam pertemuan Convention on International Trade in Endangered Species on Wild Fauna And Flora (CITES) pada tahun 1992, telah dinyatakan bahwa ikan tuna sirip biru yang banyak ditangkap di Samudera Pasifik merupakan spesies yang nyaris punah.
Budidaya tuna
Melihat kecenderungan itu, Jepang sebagai konsumen terbesar dari semua jenis ikan tuna menjadi khawatir. Karena itu, bangsa penggemar ikan ini merintis upaya budidaya tuna sebagai upaya mengurangi eksploitasi ikan tuna di laut. Mereka mengembangkan teknik budidaya tuna jenis sirip biru utara (northern blue fin tuna).
Dengan keberhasilan itu, Jepang menjadi negara pertama yang membudidayakan ikan pelagis ini dari mulai tahap pemijahan.
Saat ini, budidaya yang dilakukan masih terbatas pada upaya pembesaran, yaitu menangkap anak tuna kemudian dibesarkan di jaring terapung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Anak ikan tuna sirip biru yang beratnya 1 kg hingga 5 kg akan dipelihara hingga 2 tahun untuk mencapai berat yang layak dipasarkan. Produksi ternak tuna dari negeri kanguru ini mencapai 7.500 ton tahun lalu.
Selain Australia, beberapa negara Mediterania (seperti Spanyol, Italia, Maroko, Portugis, Malta, Kroasia, dan Turki), Meksiko, dan Jepang telah melakukan upaya pembesaran ikan tuna. Dari negara Mediterania dihasilkan 11.300 ton tuna sirip biru, sedangkan Jepang 3.000 ton tuna jenis yang sama.
Namun, untuk membesarkan tuna, masing-masing negara menerapkan periode pembesaran dan ukuran tuna tangkapan yang berbeda. Jepang membesarkan tuna mulai dari ukuran 100 gram hingga 500 gram selama dua hingga tiga tahun, sedangkan kelompok negara Mediterania, tuna dipelihara selama 6 bulan saja, namun berat tuna yang ditangkap dari alam bobotnya 50-200 kg.
Jepang kini telah selangkah lebih maju dengan melakukan pemijahan. Tidak cukup memijah tuna sirip biru, peneliti tuna dari Negeri Matahari terbit ini menyeberang ke Benua Amerika, menjalin kerja sama dengan Panama yang menjadi eksportir tuna terbesar dari Amerika Latin.
Program budidaya tuna jenis albacore di Panama sudah dilakukan delapan tahun lalu. Budidaya itu kini juga sudah sampai tahap pemijahan hingga pembesaran. Namun, pembenihan ikan tuna yang dilakukan sejak tahun 1997 hingga saat ini masih dalam skala laboratorium.
Perhatian Jepang kini beralih ke Indonesia sebagai negara pemasok ikan tuna terbesar ke Jepang. Jepang memang merupakan importir tuna terbesar dari Indonesia. Pada kurun waktu dari Januari hingga Juni 2002 Jepang mengimpor 31.578 ton tuna dari seluruh dunia, sebanyak 9.455 ton di antaranya berasal dari Indonesia.
Karena itu, Jepang menganggap kerja sama riset tuna dengan Indonesia merupakan hal penting, seperti yang dikemukakan Presiden Overseas Fishery Cooperation Foundation (OFCF) Junji Kawai saat meresmikan fasilitas riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Gondol, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (22/4) lalu.
Riset pembenihan dan pembudidayaan ikan tuna di Gondol, Bali, diharapkan dapat mengurangi penangkapan ikan tuna di perairan Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk negara dengan jenis tuna terbanyak. Ada enam jenis ikan tuna yang dijumpai di perairan Indonesia, yaitu tuna mata besar (big-eye), tuna sirip biru selatan, tuna sirip kuning (yellow fin tuna), albacore, dan tuna ekor panjang (longtail).
Komoditas ekspor
Bagi Indonesia, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, riset tuna merupakan program terobosan yang mempunyai nilai penting. Karena, ikan tuna bagi Indonesia merupakan komoditas ekspor terbesar kedua setelah udang. Dari nilai ekspor sebesar 2 miliar dollar AS per tahun, 20 persen disumbang dari ikan tuna. Ekspor tuna total dari Indonesia mencapai 200.000 ton per tahun.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) saat ini telah menempatkan budidaya perikanan sebagai program unggulan. Selain ikan tuna, ikan laut yang berhasil dipijah di fasilitas riset budidaya milik DKP meliputi udang, bandeng, kerapu, kakap merah, kepiting, dan teripang.
Untuk melaksanakan riset tuna itu, lembaga Jepang menunjukkan keseriusannya dengan memberi bantuan hibah untuk pembangunan fasilitas pembenihan atau hatchery sebesar Rp 10 miliar dan menyediakan tenaga ahli. Nilai hibah yang akan diberikan sebesar 2, 9 juta dollar AS untuk program riset hingga akhir tahun 2003.
Dalam hal ini, pihak Indonesia akan menyediakan lahan dan tenaga teknis. Pelaksanaan kerja sama yang akan berlangsung hingga tahun 2005 mulai dilakukan setelah penandatanganan kerja sama antara kedua belah pihak pada 21 Agustus 2001.
Riset tuna di Gondol, Bali, jelas Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Susilo, diawali dengan menangkap induk tuna di laut. "Saat ini baru tertangkap 5 induk tuna yang telah dipelihara di bak atau kolam khusus," jelasnya.
Kemudian akan dilakukan riset pembiakan dari telur menjadi gonad. Tahap berikutnya adalah riset pakannya agar berprotein namun tidak membuatnya gemuk sehingga sesuai dengan pakan alaminya. Pada tahap terakhir riset yang direncanakan selama tiga tahun ini adalah riset penyakit dan obatnya.
Dalam pelaksanaan budidaya tuna, ujar Kepala Pusat Perikanan Budidaya DKP Ketut Sugama, ada beberapa tingkat kesulitan, antara lain pada penangkapan induk tuna di alam. Karena kegesitan gerak ikan ini diperlukan kapal berkecepatan tinggi. Penangkapannya dengan pancing juga harus diatur agar tidak membuat bakal induk tuna itu mati karena luka atau kekurangan air selama dalam penyimpanan di kapal.
Tuna yang biasa bergerak lincah ini bila dipelihara di kolam akan mengalami peningkatan pesat bobot tubuhnya. Tuna sirip kuning yang diteliti beratnya saat ditangkap 4 kg. Namun, setelah dipelihara selama dua tahun dalam jaring apung di laut bisa menjadi 80 kg. Namun, bila dipelihara di kolam, ikan ini akan kurang bergerak sehingga kandungan lemaknya akan naik cepat dari sekitar 0,1 hingga 0,5 persen berat tubuhnya menjadi 10 hingga 20 persen dalam waktu dua bulan.
Peternakan tuna
Budidaya tuna sebenarnya telah mulai dirintis lima tahun lalu oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan mengembangkan sistem jaring apung di laut, seperti yang dilakukan Australia. Di negara benua ini, tuna berukuran kecil ditangkap dari alam dengan towing cage kemudian dipindahkan ke sangkar jaring di tepi pantai. Tuna dipelihara sampai mencapai ukuran ekonomis tertentu, baru dijual.
Husni Amrullah, peneliti BPPT yang pernah menjadi Koordinator Tim Studi Tuna, menjelaskan, tujuan dari uji coba budidaya tuna yang rencananya akan dilakukan di Pulau Seram, Ambon, itu untuk meningkatkan perekonomian nelayan di Kawasan Timur Indonesia. Diketahui, Indonesia termasuk 10 besar negara pengekspor tuna, namun tuna Indonesia dihargai rendah karena kualitas hasil tangkapannya rendah.
"Sistem penampungan sementara di jaring terapung atau kolam khusus dekat pantai dapat mengatasi masalah itu," ujar Husni yang pernah diperbantukan di DKP sebagai Direktur Pembenihan Ditjen Perikanan Budidaya DKP.
Pada program budidaya tuna BPPT beberapa tahun lalu, sempat dijalin kerja sama dengan Latoka Mina Raya untuk melakukan riset bersama dan mengkaji kelayakannya dari berbagai sudut, termasuk segi ekonomisnya. Dalam hal ini diusulkan kegiatan ini masuk dalam program Riset Unggulan Kemitraan. Program itu sayangnya berhenti sampai tahap awal karena kendala pendanaannya.
Menurut dia, upaya penangkapan ikan tuna muda untuk budidaya bisa dilakukan dengan dua tujuan, untuk pembesaran semata lalu dipasarkan dan mencari induk untuk tujuan pemijahan.
Namun, budidaya untuk tujuan pembesaran di jaring apung ini memerlukan biaya yang mahal. Apalagi pemeliharaannya di kolam memerlukan sistem sirkulasi dan pengaturan kondisi lingkungan kolam yang sesuai dengan habitat ikan tuna tersebut. (yun)

Read More

pembudidayaan burung kenari

Cara Budidaya Burung Kenari

Ini penting diperhatikan bagi peternak yang mendalami teknik berternak untuk mendapatkan kenari penyanyi yang baik. Disebutkan dalam on line Komunitas Kicau Mania Indonesia, kalau ternyata banyak peternak yang tak memahami arti penting seekor burung betina, karena individu betina tak berkicau, sehingga tak terlihat apakah kenari tersebut sebagai pembawa gen penyanyi yang baik atau tidak.
Pakar Kenari di Jogjakarta, Kian Sing, mengatakan secara genetis terbukti bahwa kenari betina berpotensi sebagai induk yang akan menentukan kualitas nyanyian anakannya. Beberapa peternak membeli kenari jantan yang bagus untuk dijodohkan dengan seekor kenari betina, dengan tujuan untuk mendapatkan anakan yang berjenis kelamin jantan yang berkualitas bagus seperti bapaknya.
Seringkali peternak akan mengatakan bahwa betinanya tidak cocok dengan si jantan, karena anakan yang dihasilkan yang berjenis kelamin jantan tak berkualitas bagus seperti bapaknya. Peternak itu jadi putus asa dan akhirnya menjual seluruh anakan dari betina itu, tanpa menyadari kalau anakan yang berjenis kelamin betina yang ikut terjual sebenarnya membawa potensi bagus untuk menghasilkan anakan jantan yang bagus di masa depan.
“Burung berjenis kelamin betina mempunyai kromosom Z W yang berperan penting untuk menentukan jenis kelamin anakannya. Burung betina akan menghasilkan anakan yang berjenis kelamin betina dengan meneruskan kromosom W dan menghasilkan anakan berjenis kelamin jantan dengan meneruskan kromosom Z,” terang Kian.
Dengan meneruskan kromosom Z ke keturunan yang berjenis kelamin jantan, lanjut Kian, artinya betina itu mewariskan nyanyian indah yang berasal dari ayah si betina ke anak jantannya. Untuk memperbaiki garis keturunan yang bagus/menghasilkan anakan yang bagus, maka diperlukan seekor kenari jantan yang berkualitas bagus.
Hasil perkawinan betina dengan pejantan yang bagus, tak selalu dapat menghasilkan anakan berjenis kelamin jantan yang hebat seperti ayahnya. Namun anakan yang berjenis kelamin betina yang berasal dari pejantan yang bagus, mempunyai potensi sebagai induk yang baik untuk menghasilkan pejantan yang bagus, meskipun saudaranya mungkin jelek.
Jangan Remehkan
Banyak peternak kenari yang tak memberi kesempatan pada betinanya untuk memperbaiki garis keturunannya. Ketika kenari betina menghasilkan keturunan seekor kenari jantan yang mempunyai kualitas nyanyian jelek, ini tidak berarti bahwa betina tersebut tak mempunyai potensi untuk menghasilkan keturunan yang baik.
“Semua kenari, baik yang berjenis kelamin jantan atau betina, pasti membawa gen yang baik atau buruk. Contohnya, di dalam sebuah sarang dengan empat anakan akan memiliki kualitas yang berbeda, mungkin hanya satu atau dua ekor anakan itu yang bagus kualitas suaranya dan lainnya mungkin memiliki kualitas suara yang cukup atau bahkan jelek,” Ujar Kian.
Sifat-sifat dari nenek moyangnya berperan penting dalam proses menghasilkan keturunan. Contohnya, individual yang hebat mungkin bisa menghasilkan anakan yang berkualitas jelek, tapi harus diingat kalau individu betina mewarisi kromosom Z yang berasal dari bapaknya yang membawa kualitas nyanyian bagus atau buruk. Sangatlah bijaksana bila peternak memilih kenari betina bukan dari kualitas nyanyian saudaranya, tapi dari kualitas nyanyian bapaknya.
Ada pepatah mengatakan, kalau kota Roma tak dibangun dalam satu hari, itu memberikan pengertian bahwa untuk mendapatkan keturunan kenari dengan kualitas kicauan yang hebat tidak dapat dihasilkan dari hasil sekali penjodohan atau beternak dalam semusim. Peternak yang baik mempunyai tujuan dan rencana waktu penjodohan.
Memperbaiki kualitas burung di peternakannya, haruslah jadi tujuan utama seorang peternak, sehingga dia harus membuat pilihan yang bijaksana dalam menentukan jenis/ras apa yang akan digunakan untuk memperbaiki mutu. Kemudian dia harus bersabar untuk melanjutkan beberapa keturunan sampai dia menemukan garis keturunan yang benar atau dirasa cocok dan terus berkonsentrasi sampai diperlukannya lagi individu baru untuk memperbaiki keturunan
Read More